Layar Terbesar di Dunia untuk Bali: Beats of Paradise 

by



Film Bali: Betas of Paradise tayang di layar rakasa terbesar di dunia di Seoul Istimewa Film Bali: Betas of Paradise tayang di layar rakasa terbesar di dunia di Seoul

SEOUL, NETRALNEWS.COM – Film karya sineas anak bangsa Livi Zheng, Bali: Beats of Paradise disambut hangat di Seoul, Korea Selatan. 

Bali: Beats of Paradise tayang di Superplex G Theater 21, Lotte World Mall, Seoul yang yakni teater dengan layar terbesar di Korsel dan malahan di dunia, yang pernah dinobatkan oleh Guinness World Records pada tahun 2014. 

Selain dikenal sebagai teater dengan layar terbesar di dunia, Superplex G Theater juga menjadi atraksi utama karena sanggup menampung 622 penonton. 

Teater ini juga dikenal sebagai teater ultra-large yang terlihat seperti teater opera dua tingkat, dengan dilengkapi dengan layar selebar 34 meter dan panjang 13,8 meter, atau diperkirakan sama dengan tinggi 34 orang dewasa bila akan digabungkan.

Sebelumnya, di awal tahun ini, trailer karya Livi Zheng ini, “Bali: Beats of Paradise” juga sempat ditayang di Seoul Sky, sebuah bangunan tinggi yang juga dinobatkan sebagai gedung tertinggi di Korea Selatan. Tayangan perdana film yang bertemakan gamelan dalam kisah perjalanan hidup seniman Bali, Nyoman Wenten dan istrinya yang juga koreografi Nanik itu.

“Bali: Beats of Paradise” ialah sebuah film perpaduan seni budaya tradisional dan modern, kisah nyata seorang seniman, keindahan pariwisata Bali yang terkenal, dan kerjasama musik pentatonik Bali dengan jenis funk yang dibawakan Judith Hill, tak heran mengundang animo luar biasa dari penonton di negeri Ginseng itu. 

Terbukti, teater berkapasitas lebih dari 600 tempat duduk itu dijejali penonton yang rela antri sejak sejam sebelumnya. Yang menonton pun, Duta Besar dari berbagai negara, pejabat Pemerintahan Korsel dan CEO dari berbagai perusahaan besar di Korsel. 

Livi Zheng, Sang Sutradara “Bali: Beats of Paradise” pun tentu tak ketinggalan hadir dalam Gala Premiere film itu. 

Menurut sutradara kelahiran Jawa Timur, yang bermukin di Los Angles, AS, selain menceritakan perjalanan sepasang seniman dari Bali yang bermimpi memperkenalkan gamelan ke dunia internasional, karyanya juga melibatkan beberapa musisi terkenal seperti Judith Hill, penyanyi dan juga pencipta lagu asal California, dan I Wayan Balawan, gitaris jazz Indonesia yang berasal dari Bali dan terkenal dengan “Touch Tapping Style”-nya.

Film yang akan tayang serentak di seluruh jaringan Lotte Cinema di Korsel memang pantas mendulang decak kagum. Sejak trailer film itu ditayangkan di Seoul Sky, banyak pihak menantikan penayangannya di bioskop-bioskop lainnya di Korsel. 

Sebelumnya, film itu tayang di bioskop-bioskop di AS, dan Mei akan datang di maskapai penerbangan Singapura, SQ. Sementara, Juli 2019 akan tayang perdana di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.  

Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, juga ikut terlibat dalam proses produksi film itu sebagai executive produser bersama bankir Julia Gouw. Dubes Umar Hadi pada waktu masih menjabat sebagai Konjen RI di Los Angeles, AS. 

“aku mujur bertemu dengan Sutradara  Livi Zheng dan bankir Indonesia di Amerika Julia Gouw yang punya hasrat sama yaitu mempromosikan Gamelan. Itulah awal terciptanya film ini. aku mau Gamelan semakin dikenal di mancanegara dan terus diajarkan dan diwariskan ke generasi muda kita,” kata Dubes Umar. 

Inspirasi utama Livi Zheng

Bagi Livi Zheng sendiri, gamelan kini menjadi inspirasi utama dalam filmnya sesudah sukses dalam “Brush With Danger” pada 2015 lalu. 

“aku semakin terinspirasi dan mendalami gamelan ketika menyutradarai film ini. aku akan terus mengangkat kebudayaan dan seni Indonesia di panggung dunia,” tuturnya. 

Budaya Indonesia yang telah cukup dikenal di Korsel, tampaknya memang turut membikin film ini amat dinikmati masyarakat yang menontonnya. Youngsil Park salah satunya. 

“Amazing Film! aku jadi makin  suka gamelan dan kebudayaan Indonesia. aku merekomendasikan film ini untuk ditonton,” ungkapnya. 

Selain itu Jacob Choi memberikan penekanan lain. “Film ini amat berbeda dan mengesankan. Perpaduan budaya Indonesia dan Amerika menghadirkan rasa tersendiri. Film ini menjadi salah satu gerakan film Asia yang amat baik,” ungkapnya seusai menonton “Bali: Beats of Paradise”. 

Film yang akan serentak ditayangkan di seluruh jaringan bioskop Lotte Cinema di Korsel mulai pada tanggal 15 April 2019 ini juga diinginkan semakin membikin Indonesia dikenal di Korsel. Harapan yang sama juga diungkap Young Choi, Rektor Dong-ah Institute of Media and Arts yang turut hadir menonton.

“Film ini membikin aku jatuh cinta lagi dengan Indonesia, terutama dengan Bali,” paparnya. 

 



Sumber : NetralNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *