Naik Lagi! Utang Pemerintahan Jokowi Sentuh Rp 4.363 Triliun

by


SURATKABAR.ID – Utang pemerintah RI kembali mengalami peningkatan. Per 31 Agustus 2018, jumlah utang mencapai Rp 4.363,2 triliun atau 30,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) sejumlah Rp 14.395,7 triliun.

Jumlah utang ini merupakan rekor tertinggi utang pemerintah di era Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebelumnya, pada 2015 tercatat utang pemerintah sejumlah Rp 3.165,2 triliun atau 27,4 persen dari PDB.

Kemudian, pada 2016 jumlah utang meningkat menjadi Rp 3.466,9 triliun atau 27,5 persen dari PDB. Jumlah utang ini kembali meningkat pada 2017 menjadi Rp 3.938 triliun atau 29,2 persen dari PDB.

Peningkatan utang pemerintah ini menurut dokumen APBN KiTa, disebabkan oleh faktor eksternal yang menyebabkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Bicara Kebocoran Negara Rp 1.000 Triliun, Prabowo: Ibu Susi Mungkin Sebentar Lagi Kena Reshuffle

Selain itu, peningkatan tersebut juga dipicu oleh maraknya penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai instrumen pembayaran proyek untuk Kementerian/Lembaga (K/L).

Strategi front loading atau strategi menarik pembiayaan di awal pada saat suku bunga di pasar masih rendah juga menjadi salah satu faktor meningkatnya utang pemerintah.

Janji Menteri Keuangan

Mengenai peningkatan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati membenarkan bahwa secara nominal dan rasio utang pemerintah memang meningkat. Namun, ia memastikan pemerintah akan berupaya untuk menjaga rasio utang di kisaran tersebut dan tak melewati batas rasio utang.

“Kami akan tetap menjaga di sekitaran itu, kalau ada dinamika nilai tukar yang mengubah nilai nominal, terutama dari luar negeri, nanti kami akan adjust (sesuaikan),” tuturnya di Kementerian Keuangan, Jumat (21/9/2018), dilansir cnnindonesia.com.

Tak hanya itu, Sri Mulyani juga memastikan penggunaan utang tersebut akan diupayakan agar efisien dan memberikan manfaat uang besar bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah juga akan berhati-hati dalam menggunakan setiap utang yang ditarik.

Diketahui, utang sejumlah Rp 4.363,2 triliun tersebut berasal dari pinjaman sebesar Rp 821,3 triliun dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Rp 3.541,89 triliun.



Sumber : SuratKabar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *