Peneliti: Asap Kebakaran Hutan Bikin Bayi Lebih Pendek

by


Peneliti: Asap Kebakaran Hutan Bikin Bayi Lebih Pendek

BJORN VAUGHN
Kebakaran hutan yang terjadi di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Hidayatullah.com– Hasil riset para peneliti dari Duke University, Amerika Serikat menemukan dampak negatif dari kebakaran hutan pada kesehatan manusia.

Penelitian terbaru berjudul “Seeking Natural Capital Projects: Forest Fires, Haze, and Early-life Exposure in Indonesia” yang dipublikasikan di situs organisasi Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS) melansir kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia pada 1997 memberi pengaruh negatif terhadap pertumbuhan anak2.

malah oleh majalah TIME, peristiwa kebakaran hutan tahun 1997 itu dinobatkan sebagai salah satu yang terburuk sepanjang masa.

Selama peristiwa tragis ini, hampir 11 juta hektare tanah dibakar untuk tanaman baru, dengan asap dan kabut meluas hingga ke Malaysia, Brunei, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Polusi yang dihasilkan sedemikian buruknya hingga memberi dampak negatif pada pertumbuhan. Penelitian PNAS membuktikan bahwa malah anak2 di dalam rahim bisa terpapar polusi asap, yang berpotensi menghambat pertumbuhan tinggi badan mereka.

Baca: Kepala BNPB: 99 Persen Karhutla imbas Ulah Manusia

Temuan riset juga menyebutkan bahwa udara beracun bisa menyaring pasokan oksigen janin dan menyebabkan perubahan permanen, yang berpotensi menyebabkan berat badan bayi dikala lahir rendah dan tinggi badan yang lebih pendek di usia dewasa.

“Berbeda dari penelitian sebelumnya, yang memfokuskan perhatian pada kasus kematian yang disebabkan oleh kebakaran hutan, kami menfokuskan riset pada jutaan korban selamat tapi menderita penurunan fungsi dan kemampuan,” tulis para periset seperti diinformasikan Indonesia Inside dari DW.de., Selasa (26/02/2019).

telah awam dikenal bahwa polusi udara bisa memberi dampak negatif pada kesehatan, terutama pada anak2. tapi hasil studi terbaru ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan lebih berbahaya daripada yang kita bayangkan sebelumnya.

Kebakaran hutan tahun 1997 yakni bencana besar. Jumlah besar sulfida, dinitrogen oksida, dan abu lepas ke udara, menghasilkan seperempat dari jumlah emisi karbon tahun itu.

Diperkirakan peristiwa ini membikin sekitar 20 juta orang terdampak negatif pada kesehatan mereka. Hasil penelitian terbaru dikenal sekitar satu juta anak2 dan bayi dalam kandungan turut terpengaruh polusi udara.

Baca: BNPB: Kebakaran Lahan 843 Hektare di Riau Awal 2019

Sebagai bagian dari penelitian, para periset di Duke University, AS memeriksa 560 anak yang terkena dampak. Mereka, selama kebakaran hutan masih berada di dalam kandungan atau berusia kurang dari enam bulan.

Para peneliti menganalisis data paparan prenatal terhadap polusi, gizi anak, faktor iklim, informasi genetik, dan faktor sosial lainnya.

Peneliti menemukan bahwa anak2 yang lahir selama peristiwa kebakaran hutan (1997 hingga 1998), rata-rata lebih pendek 3,4 sentimeter di usia 17 tahun dibandingkan kalau mereka tak terpapar polusi dikala kecil.

Melalui hasil penelitian ini, para periset menekankan perlunya kebijakan untuk mendeteksi dan menekan kebakaran atau memberlakukan larangan bakar hutan. Menurut mereka, kebijakan semacam itu akan meningkatkan kesejahteraan sosial.

Temuan ini juga memberikan justifikasi yang kuat untuk kebijakan pemerintah Indonesia yang sedang dilakukan terkait pemulihan hutan, termasuk kebijakan yang berfokus pada pemulihan lahan gambut. *



Sumber : Hidayatullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *