Perubahan Regulasi Porda Jabar 2018 Dipertanyakan

by



Tim Tenis Meja Garut yang berlaga di PORDA XIII 2018 Jawa Barat.

Tim Tenis Meja Garut yang berlaga di PORDA XIII 2018 Jawa Barat.

JAKARTA – Penyelenggaraan Pekan Olahraga Daerah (Porda) XIII 2018 Jawa Barat di Gedung Gymnasium IPB Bogor Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar) pada 7 hingga 14 Oktober menyisakan permasalahan. Sejumlah daerah peserta pertanyakan perubahan regulasi penyelenggaraan pertandingan cabang olahraga dalam Technical Handbook yang dikeluarkan secara mendadak oleh KONI Jabar.

“Ketika Rakerda di Bandung kan telah disepakati regulasi pertandingan cabor tenis meja yaitu pemain usia 27 ke bawah plus 1 dan belum pernah berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Kok bisa berubah? Awalnya memang kota Bogor melakukan protes akan technical handbook tersebut, tetapi entah kenapa protes tersebut hilang redup,” ungkap Ketua Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kabupaten Garut sekaligus Manajer Tim Garut, Nurseno SP Utomo dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Menurut Nurseno, keberatan itu karena merasa dirugikan dengan perubahan mendadak regulasi pertandingan yang dilakukan KONI Jabar. “Berdasarkan regulasi yang disepakati ketika Rakerda kami telah menjalankan pembinaan yang terencana dan terukur dengan target juara umum. Tapi karena ada perubahan regulasi, strategi kami jadi bergeser karena banyak daerah peserta yang kemudian menurunkan pemain berusia 28 tahun dan telah berpengalaman di tingkat nasional. Seperti Kabupaten Subang yang menurunkan Gilang Maulana yang berhasil meraih emas,” lanjutnya.

Nurseno menegaskan protes ketidaktegasan KONI Jabar dan Pengprov PTMSI Jabar dilakukan karena telah mengorbankan mimpi putra-putri daerah dengan menghadirkan pemain nasional di ajang tersebut.

“Jangan korbankan atlet-atlet daerah dan mimpi putra-putri daerah dengan dihadirkannya pemain nasional dan internasional di ajang tingkat daerah. Bagaimana kita bisa mendapatkan bibit-bibit unggul daerah? Dan yang lebih utama jangan merubah peraturan yang telah di sepakati sebelumnya secara mendadak dan mengorbankan banyak pihak. Regulasi harus jelas, agar kita terhormat dan mendapatkan kehormatan,” tandasnya.

Hingga saat ini ia masih belum mendapat jawaban dari KONI Jabar dan Pengprov PTMSI Jabar. Sebelumnya, tim Tenis Meja Garut yang diperkuat Fahmi, Hendi, Andre, Gibran, Ida, Rosy, Eva dan Nisa, menargetkan juara umum di bawah asuhan pelatih Tantan. Namun karena regulasi tersebut, tim tenis meja Garut, gagal memenuhi target.

“Bukan atletnya yang kami permasalahkan, tetapi regulasi dan peraturan yang mengakibatkan mereka dapat bermain. Sehingga berimbas terhadap semua lini yang telah kami persiapkan dari jauh-jauh hari dengan pembinaan yang konsisten dan terarah selama enam bulan berbiaya sendiri,” pungkas Nurseno yang juga manajer Tim Tenis Meja Garut. (junius/yp)



Sumber : Postkotanews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *